Tags

, ,



wahai engkau yang mengumpat dibalik bisa lidahmu,
termanjakan oleh hak dan kebebasan berbentuk batu,
ratusan pulau disini sudah dapat kau singgahi,
setengah isi surga telah terlimpahkan dinegeri ini,

namun kenapa kau biarkan lidahmu melipat ribuan tikar?
kemudian kau gantikan dengan tempat – tempat tinggal yang terbakar,

puluhan tahun kita sudah berjabat bersama,
mulai dari kecurigaan hingga persaudaraan,
mulai dari bambu hingga pesawat tempur,
mulai dari mantra hingga undang – undang,

masjid yang kokoh, gereja yang megah, pura yang damai dan vihara yang indah,
menjadi satu dalam dua warna,

namun lidahmu??,
seperti udara kotor yang menutup awan,
mempersempit ruang nafas,
dan membakar seluruh hutan kalimantan.

jauhkan ruang sempitmu dari kami!!,
orang pintar saja?, tak perlu lah kami mengadu,
kebencian dan dendam, selesaikan dengan damai,
adapun kau miliki tujuan, potonglah lidahmu agar kami hanya melihat sikapmu,,

berkatalah dengan hatimu,
berjalanlah dengan akalmu,
dan berikrarlah dibawah sinar matahari yang kau nikmati hingga hari ini,
“BHINEKA TUNGGAL IKA”

28/09/11