Inilah sebuah surat pendek yang tertulis dari hati yang khawatir. Inilah beberapa kata yang sudah lama tak menggebu dan dipenuhi ketakutan untuk membakar…

Sungguh, mungkin aku bersalah atas hal ini, meski hatiku masih berjalan di atas pendapatku bahwa kau terlalu lemah untuk meninggalkanku.

Pernah sekali aku merasakan ditinggalkan oleh orang yang kucintai, dengan pengalaman itu aku berusaha untuk tidak menjatuhkan hatiku lagi kepada siapapun. Namun seiring waktu, aku merasa begitu kuat telah menerima semua kekurangan seseorang yang kucintai. Itu adalah sebuah kemajuan bagiku. Bahkan tak tanggung – tanggung, kekurangan itu adalah kekurangan yang paling aku takutkan ada dipasanganku. Entah bagaimana persepsi itu berubah, seiring waktu, kau menguatkanku dengan semua kebaikan dan usahamu.

Akupun terus berjalan, menembus segala ke abu – abuan yang membuatku ragu akanmu. Langkahku kian hari kian cepat dan kuat. Hingga tak lagi kurasakan ketakutan akan sedih yang pernah kurasakan. Yang kurasakan, hanya perencanaan – perencanaan masa depan yang belum sempat ku katakan.

Namun kemudian, hal ini terjadi.. kaupun ambil keputusan karena enggan dengan kesalahanku yang berawal dari kekuranganku, namun aku tak menyesal sama sekali. Aku hanya mengatakan pada hatiku bahwa kau terlalu mencari yang sempurna bahkan ketika dirimu tidak dalam keadaan yang sempurna. Selama aku tak mendua, aku tetap berjalan pada jalanku. Waktu berlalu, kekuatan kata – kata terus memotivasi ku untuk melupakanmu bahkan membencimu. Disela – sela itu, aku merasakan begitu banyak godaan yang datang dari luar. Namun aku terus berkata pada hatiku, “sudahlah, aku harus fokus dengan apa yang ingin aku capai, jangan menghancurkan semua mimpimu karena tergoda oleh wanita lain”. Hingga sekarang, akupun masih bertahan dengan bisikan itu.

Kemudian kutanyakan lagi kedalam hatiku, apakah kau merasa merindukannya dan ingin meminta maaf?. “tidak” ujar hatiku yang terdalam, “lebih baik aku mencari yang tidak sempurna namun menerima ketidak sempurnaanku.”, kemudian ada lagi bisikan “sampai kapan??”, sedikit ku merenung dan seketika kembali terjawab oleh ibuku dimalam itu, “nak, kau ini anak laki – lakiku, berjalanlah sekuat gunung, dan berlarilah sekuat angin.”. akupun bersyukur atas cahaya yang ia pancarkan.

Bahkan hingga detik ini, aku masih ragu untuk menulis. Ragu untuk menyatakan kesendirian yang kurasakan tanpamu. Namun apalah arti semua itu, aku hanya bersyukur jari jemari ini kembali menari meski didorong oleh rasa sedih. akhirnya aku sedikit tau, temanku bilang itu adalah sebuah “impulsif” bagi karyaku.

“apakah kau merindukannya?”, kembali pertanyaan itu terlontar didalam kalbu. Fikiran dan hatikupun berkelit hingga kutemukan sebuah jawaban “entahlah”, “mungkin perasaanku lebih dekat dengan persaaan khawatir seorang ayah kepada anak putrinya”. Hatikupun tak lagi bertanya, namun rasa itu tak juga menghilang.

Aku terus berdoa kepada Tuhan yang maha mengatur hati untuk tidak membuaikanku dalam hal ini, dan aku yakin, ketika aku merasakan hal seperti ini, kau pun merasakannya. Atau mungkin kau yang merasakannya terlebih dulu hingga menyambar tepat kearah batinku.

Kutujukan surat ini bukan untuk permintaan maaf, karena kenyataannya akupun merasa tersakiti. Aku hanya ingin merasa puas atas apa yang kurasakan yang kemudian dapat kutuliskan. Inilah rasa yang pertama kali kurasakan dalam hidupku, bukan rasa takut akan kehilangan seseorang yang kucintai, bukan juga rasa rindu nafsu yang menggebu untuk bertemu, namun rasa ini lebih benar menurutku dari yang pernah kurasakan.

Aku benar – benar merasa seperti seorang ayah yang teramat khawatir akan putrinya yang belum jua pulang. Merasa ingin kusimpan mata ditubuhnya agar aku mengetahui kemana saja ia pergi. Merasa ingin kusimpan telinga agar tau tentang apa saja yang telah ia pelajari dari orang lain. Dan menyembunyikan sayap perakku ditubuhnya agar ia tetap terlindung dari segala gangguan. Bahkan ingin kusimpan hatiku karena rasa takutku akan hatinya yang masih labil. Sungguh aku merasakan hal yang sangat aneh, dan seandainya aku dapat melakukan hal itu tentu aku sudah melakukannya..

Aku berharap kepadamu, sangat memohon dari dasar lubuk hatiku yang lebih dalam dari perasaanku kepadamu..

Doakan aku, doakan aku agar dapat membiarkanmu pergi dari kekhawatiranku,,

Ketika itu terkabulkan dan kita sama – sama tak lagi memiliki kesedihan, maka saat itulah kita dapat menjalani hidup masing – masing tanpa rasa apapun.

Sesuatu yang harus kau tau, meski aku masih berjalan di atas pendapatku, namun aku tak pernah ingin merasakan melihatmu kecewa. Oleh karena itu, aku tak pernah ingin meminta banyak informasi tentangmu atau apapun yang kau sembunyikan dariku hingga akhirnya aku mengetahuinya sendiri. Meski aku mengetahuinya, aku akan terus berusahan untuk tidak mengambilnya kecuali kau yang berikan. Dan biarlah itu bermain di persepsi subyektifmu sendiri, baik itu karena “aku terlalu gengsi dan pengecut untuk memintanya kepadamu”, namun yang ku pegang sekarang adalah “aku melakukannya karena menghargaimu sebagai kekhawatiranku”..

21/09/11