Tangisan, keluhan, rintih kesakitan seakan menata ulang negri bahari ini, beberapa orang menatapnya dengan tangisan,

sebagian orang menelusuri kebenarannya,

sebagian orang kehilangan cinta keluarga yang tersusun dengan perjuangan. ” kenapa tak ada peringatan??”, ujar seorang yang jauh dari lokasi dan hidup tenang dengan air hangatnya.

” itulah pemerintah..”, tambah orang bodoh dengan perhiasan diujung lidahnya. ”

“pantas saja terjadi, disana banyak orang yang……..”, ujar iblis dengan jas atau gelar sabuk hitam didalam hatinya.

“aku, akulah yang bersalah atas semua itu, akulah yang Ia peringati, akulah penghancur pondasi – pondasi bumi ini. akulah manusia hina yang menyebabkan ratusan bahkan ribuan orang dipaksa mengeluarkan air matanya” ujar seseorang yang berada di negri dongeng.

Sulitnya berkata seperti itu, karena yang terlihat hanya kesedihan dari rasa tangisan yang hambar.

Kesedihan tanpa kesadaran tercekik oleh penyesalan,

Keibaan tanpa memandang ancaman,

dan rasa haru tanpa berbuat sesuatu.

31/10/10 20:50