Akulah saksi atas apa yang kusaksikan,

Kesaksian yang tak dapat kuartikan,

Kenyataan yang tak patut disaksikan..

Namun aku tetap menyaksikan dan mengartikan…

Saat muda, ia tak berharap menjadi penghibur.

Karena saat tua ia tak ingin menjadi wanita yang tak dapat berbaur.

Terjebak dalam halusinasi kenikmatan dan kebahagiaan,

Terjerat oleh paradiqma yang begitu kuat dan mengikat,

Dikutuk dan dicela tanpa hakim dan pengadilan,

Diinjak dan diperjual belikan oleh perantara raja iblis.

Waktu terus menggigitinya sambil mengenyam paradiqma pahit,

Garis wajah tak lagi dapat terisi oleh kosmetik,

Sinar mata telah lelah menjadi daya tarik,

Dan Lidahpun sudah enggan mengobral barang murahan walau antik..

Saatnya ia tertidur bersama alas yang tak lagi nyaman,

Minum air dari sisa pengemis jalanan,

Menunggu sarapan dari penjajah asongan yang berbaik hati,

Dan menunggu kabar baik dari iblis berwajah putih yang membawa pelanggan.

Saat pagi tiba, sesosok malaikat datang…dan berkata lembut ditelinganya “kabar baik untukmu wahai jiwa yang terludahi, kabar baik untukmu wahai jiwa yang tak berkuasa, kabar baik, kabar baik…dan kabar buruk ada ditanganmu yang terus kau genggam”. Maka hilanglah ia bersama tangan yang terus menggenggam.