Menurut DeVito (1997:77-84) beberapa proses yang dapat mempengaruhi persepsi adalah:

1. Teori Kepribadian Implisit (Implicit Personality Theory), adalah sistem aturan yang mengatakan kepada kita mana karakteristik yang sesuai untuk karakteristik yang lain, seperti cantik=baik, ramah=menarik, ganteng=tegap, dsb.

2. “Efek Halo” yang banyak dikenal merupakan fungsi dari teori kepribadian implisit kita. jika kita percaya bahwa seseorang memiliki sejumlah kualitas positif, kita akan menyipulkan bahwa ia juga memiliki kualita positif lainnya dan begitupun sebaliknya.

3. ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya (self-Fulfilling Prophecy). hal ini terjadi jika kita membuat perkiraan atau merumuskan keyakinan yang menjadi kenyataan karena kita meramalkan dan bertindak seakan – akan itu benar. ada empat langkah dasar dalam hal ini yaitu (1) membuat prediksi atau merumuskan keyakinan tentang seseorang atau situasi, (2) bersikap seakan – akan ramalan atau keyakinan kita benar terhadap orang atau situasi yang kita ramal, (3) karena kita bersifat demikian, maka sikap orang atau situasi yang kita hadapi akan menjadi kenyataan sesuai ramalan kita sendiri, dan (4) mengamati efek kita terhadap pihak lain atau situasi tertentu, sehingga apa yang kita saksikan akan memperkuat keyakinan kita.

4. Aksentuasi Perceptual (Perceptual Accentuation). Proses aksentuasi perceptual ini membuat kita melihat apa yang kita harapkan dan kita inginkan, seperti kita melihat orang yang kita sukai sebagai lebih tampan/cantik dan baik demikian juga sebaliknya.

5. Primasi Resensi (Primacy Recency). “efek primasi merupakan efek awal yang mempengaruhi persepsi seseorang. sedangkan efek resensi merupakan efek terakhir atau yang paling baru yang mempengaruhi persepsi seseorang.

(Rosmawaty, Mengenal Ilmu Komunikasi 2010, Widya Padjajaran)

About these ads